• Breaking News

    Kisah The Sin Nio Perempuan Etnis Tionghoa (Prajurit TNI) Pahlawan Bangsa Indonesia Asal Wonosobo

    Banyak sekali prajurit tionghoa semasa zaman penjajahan dulu
    dan keberadaan mereka semua di tutup tutupi dan sangat sulit di akui
    sebagai Pahlawan karena mereka merupakan etnis tionghoa  biarpun mereka sudah turut bejuang dengan gigih, pantang menyerah, tidak tunduk pada nasib dan bermental baja melakukan sikap kepahlawannya mereka tidak menyerang kepada para penjajah.

    Salah satunya kita sebut saja The Sin Nio Perempuan Etnis Tionghoa , bagaimana kisah akhir kehidupan pejuang bangsa ini, apakah kemudian beliau menghilang begitu saja, atau dia menghindar dari kita bangsa Indonesia, dan berucap :
    “Saya tidak mau merepotkan bangsa saya, biarlah saya hidup dan mati dalam kesendirian, karena hanya Tuhan yang mampu memeluk dan menghargai gelandangan seperti saya!”

    Pernah ada janji dari Menteri Perumahan, Cosmas Batubara, bahwa Sin Nio akan diberikan rumah di Perumnas. Tapi janji tinggallah janji.

    Berikut ini kisah pilu hidup seorang prajurit perempuan satu-satunya wanita dari suku etnis tionghua '' The Sin Nio "

    '' The Sin Nio " Perempuan Tionghoa ini merupakan pejuang kemerdekaan Indonesia asal Wonosobo, Jawa Tengah. Beliau ikut bertempur melawan Belanda dan bergabung dalam Kompi 1 Batalion 4 Resimen 18, di bawah komando Sukarno (terakhir berpangkat Brigjend dan pernah menjadi Dubes RI untuk Aljazair). Istimewa, Sin Nio adalah satu-satunya prajurit perempuan dalam kompi tersebut.

    Pada masa perjuangan Sin Nio awalnya hanya bermodalkan senjata sederhana berupa golok, bambu runcing dan tombak. Sampai akhirnya suatu ketika gadis pejuang tersebut berhasil merampas senapan jenis LE dari pihak Belanda.
    kemudian Sin Nio dipindahkan kebagian perawat atau palang merah, karena ada kekosongan juru rawat, padahal banyak sekali pejuang yang terluka dan butuh perawatan medis. Sin Nio berhasil melaksanakan semua tugas yang dipercayakan kepadanya dengan baik.

    Setelah kemerdekaan dan kondisi negara mulai aman, srikandi ini memutuskan menikah dan akhirnya memiliki enam anak dari dua orang suami, yang keduanya berakhir dengan perceraian.

    Sebagai seorang janda yang memiliki 6 orang anak membuat hidup Sin Nio sangatlah berat, dan hal ini membulatkan tekad keberangkatan dirinya dari Wonosobo ke Jakarta. Keputusan ini juga diakibatkan oleh karena pejuang ini tak mendapatkan pensiun, yang semestinya adalah haknya sebagai pejuang kemerdekaan. Keberangkatan nya ke Jakarta untuk mengurus hak pensiunnya. Saya menduga ini karena Sin Nio berasal dari etnis Tionghoa, sehingga dana pensiunnya dipersulit.
    Pada tahun 1973 , Sin Nio
    sampai di Jakarta dan menumpang tinggal selama sembilan bulan di Markas Besar Legiun Veteran Republik Indonesia di Jalan Gajah Mada.


    Pilihan menyedihkan bagi seorang pejuang bangsa, bayangkan perempuan pejuang berusia sekitar 60 tahun harus hidup menggelandang di kerasnya ibukota. Kehujanan kepanasan tanpa tempat tinggal yang jelas. beliau terpaksa hidup menggelandang di ibukota,

    Tanggal 29 Juli 1976, Sin Nio berhasil mendapatkan pengakuan sebagai pejuang yang turut aktif mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Surat Keputusan pengakuan The Sin Nio dikeluarkan oleh Mahkamah Militer Yogyakarta. SK ini ditandatangani oleh Kapten CKH Soetikno SH dan Lettu CKH Drs.Soehardjo, juga sebagai saksi mata ditandatangani ooeh Mayor TNI-AD Kadri Sriyono (Kastaf Kodim 0734 Diponegoro dan Dr R.Brotoseno (dokter militer pada Resimen 18 Divisi III Diponegoro.
    Beliau hidup menggelandang di seputaran pintu air tak jauh dari mesjid Istiqlal Jakarta.Uang pensiun sebesar Rp 28.000,- per bulan akhirnya dapat diperoleh beberapa tahun kemudian. Tapi uang sebesar itu tak mampu mencukupi kebutuhan lainnya, sehingga Sin Nio hanya bisa tinggal di gubuk tanah pinggiran rel kereta api milik PJKA.

    The Sin Nio bersikeras tak mau pulang lagi ke Wonosobo, bahkan dia tak pernah lupa untuk tetap mengirimkan uang kepada anak cucunya di kampung halaman. “Saya tak mau merepotkan anak cucu saya, biarlah saya hidup sendiri di Jakarta, meski dalam tempat seperri ini!” . Jiwa pejuang sejati!




    SALAM ADMIN







    Tidak ada komentar

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad